jump to navigation

Kereta Api dan ongkos sosial May 28, 2008

Posted by dua rahasia in Tentang Hidup.
add a comment

Kereta api memang menarik hati. Di dalamnya ada begitu banyak pelajaran tentang hidup. Dari pengamen-pengamennya yang buta, yang membawa kotak suara menyanyikan lagu seadanya, berjalan pelan-pelan di tengah gerbong, atau ibu-ibu yang menggendong anaknya, bernyanyi sesedih-sedihnya, berharap ada yang berbelas kasihan memberikan sekedar recehan untuk makan.  Atau dari pengamen dengan alat segala rupa, berharap dapat menyaingi orkestra di gedung opera. Dengan gitar, celo, accordion dan biola, menggoda penumpang muda dengan lagu-lagu cinta. Itu baru pengamen.

Ada pula anak-anak menyapu lantai kereta dengan sapu kecil atau langsung dengan tangannya. Mengiba pada penumpang, terkadang menyentuhkan tangannya ke kaki kita.  Menatap dengan sendu matanya, tak tahan untuk tak mengisi tangannya yang menengadah. Atau para penjual korannya, seribu saja. ada yang muda dan juga tua.  Membawa tumpukan korannya yang mungkin tak habis sore itu. Belum lagi penjual makanan dan minumannya, silih berganti segala rupa. Tentu saja bukan makanan menggoda, namun murah untuk sekedar mengganjal lapar para kuli jalanan.  dan terkadang ku sebel juga dengan penjaja pernak-pernik (atau apa sebutannya). Menggantungkan dagangannya tepat di depan kita, para wanita. Memangnya semua doyan belanja dan mudah tergoda, enak saja. Namun kadang kubeli juga, sekedar peniti atau tissuenya.  Mungkin bisa menyambung hidupnya.

Tiket keretaku hanya 1500 saja, tapi ongkos sosialnya berkali lipatnya, untuk mereka, karena memang jatahnya.  Ah, kereta apiku, tarifmu jangan ikut-ikutan naik ya, kasihan mereka.

Kereta Api dan semangat kebangkitan May 28, 2008

Posted by dua rahasia in Tentang Hidup.
1 comment so far

Sudah cukup lama sejak divisi di kantor kami dipindahkan ke BSD, dan sudah rutin pula teman-teman berangkat pagi-pagi dari kost di Cempaka Putih menuju kesana, aku hanya kadang-kadang saja karena kostku sebenarnya ada di BSD. Transportasi yang kami gunakan tak lain adalah KRL ekonomi AC jurusan tanahabang-ciujung, dan terkadang  KRL ekonomi non AC, jika kami datang kesiangan lewat jam 06.30. Cukup murah, 5rb saja untuk yang AC dan malah hanya 1500 untuk non AC.

Sudah menjadi kebiasaan, kami akan memilih duduk di gerbong terakhir karena lebih dekat dengan jalan keluar saat sudah tiba di stasiun rawa buntu, tangerang.  Bersama kami biasanya ada ibu-ibu yang membawa barang belanjaan (=kulakan), mereka biasa naik dari stasiun palmerah. Dan pagi itu pun begitu. Ibu-ibu itu naik tanpa tiket dan sudah menjadi hal yang biasa jika petugas tiket datang untuk memeriksa, mereka akan mengulurkan uang 2rb rupiah dan oleh sang petugas akan langsung masuk kantong tanpa banyak komentar. Hmm, beginilah kondisi negeri ini.  Tapi ada yang berbeda kali ini, terlihat ada banyak petugas ka, berpakaian biru tua,  dari gerbong belakang mulai memeriksa karcis. Walaupun tak terlalu mendengar pembicaraannya, namun bisa kudapat intinya bahwa ibu-ibu itu mendapat sedikit teguran dari para petugas. Terlihat akhirnya ada yang membeli karcis dari petugas tersebut, tidak dengan harga 4kali lipat seperti pengumuman di stasiun  bagi mereka yang kedapatan tidak memiliki tiket. Namun ada juga yang masih menyodorkan uang 2rb dan masih diterima oleh si petugas. Sepertinya tergantung seberapa sanggup ibu-ibu itu ngeyel dengan petugas.  

Esoknya pemandangan berbeda, ibu-ibu itu sekarang membeli tiket semua. Hmm, ada apa ya. Petugas pun tidak menerima uang seperti biasanya , apabila ada yang tidak punya tiket, maka diharuskan membeli tiket ‘ontime’ (hehe, istilahku sendiri). Wow..perkembangan yang bagus, tapi ada apa ya. Mungkin ini sedikit atmosfir kebangkitan yang sampai pula di atas kereta. Bagus lah, semoga konsistensinya terjaga.

(Edisi Kereta Api)