Ada sebuah adagium yang mengatakan ‘ Hiduplah dulu baru berfilsafat’. Dalam kondisi kehidupan sekarang ini agaknya memang berfikir secara mendalam tidak menarik perhatian. Bagaimana mungkin memikirkan tentang kehidupan sedangkan persoalan hidup sehari-hari saja telah menghimpit. Berfikir atau bertafakur rasanya adalah suatu yang melangit sehingga menjadi pekerjaan nomer sekian yang itupun tak terlaksana karena sudah habis waktu untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup. Padahal berfikir ini sangatlah penting, karena ia menentukan kemajuan seseorang dan lebih lagi menetukan kemajuan suatu bangsa. Bayangkan jika manusia tidak berfikir, hidup hanya menjalani apa yang harus dijalani, lahir, besar, kuliah, bekerja. Mengikuti perkembangan jamannya, mengikuti apa yang menjadi kebiasaan lingkungannya. Seorang yang ahli berpikir adalah mereka yang mengetahui potensi besar dalam dirinya sehingga mampu memanfaatkannya secara optimal.
Konsep berfikir :
Tidak semua hal perlu dipikirkan, dan tidak semua hal yang dipikirkan itu menghasilkan kebangkitan. Pada hakikatnya sistem berpikir terbagi tiga.
1. Esensi
Seyogyanya seorang berpikir mulai dari esensi (inti). Tanpanya tidak akan berujung pada suatu kebenaran. Dan esensi dalam kehidupan ini adalah untuk menjawab pertanyaan mendasar ‘Dari mana asal kita, untuk apa kita ada di dunia ini dan akan kemana kita setelah mati?’ Dengan menjawab pertanyaan tersebut tahulah kita bahwa kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah, menjadi khalifahnya di muka bumi ini, dan kita akan diminta pertanggunggjawaban kelak setelah kita mati. Keyakinan dan keimanan inilah yang menjadi dasar bagi setiap muslim dalam beraktivitas.
2. Prinsip
Setelah memahami esensi maka selanjutnya berfikir mengenai hal-hal yang prinsip. Prinsip adalah yang membatasi esensi. Esensi hanya satu, namun prinsip bisa beberapa tapi tidaklah banyak. Seorang muslim akan melihat bahwa aqidah adalah esensi dan rukun iman dan rukun islam adalah prinsip. Termasuk juga kaidah-kaidah ushul fiqih (ilmu mengenai dasar agama islam). Ada yang telah memikirkan esensi dengan benar, namun melenceng dalam penjabaran prinsip. Ia memahami konsep tauhid, bahwa hanya ada satu Tuhan, namun ia juga mengakui bahwa semua agama adalah benar. Yang seperti ini telah gagal membuat prinsip yang menjabarkan esensi.
3. Praktik
Jika esensi dan prinsip sudah dipahami, barulah masuk ke dalam masalah-masalah praktis. Jumlahnya akan sangat banyak, sesuai dengan kondisi lingkungannya namun tidak akan lepas dari esensi dan prinsip tadi. Seseorang yang selalu berpikir praktis akan susah mendapatkan kebenaran. Ia akan lelah karena tidak akan menemukan norma yang harus dipegangnya. Ia akan bingung karena kasus yang satu dengan yang lainnya berbeda, karena pendapat orang dan lingkungannya tidak murni sama. Seorang muslim yang memegang esensi dan prinsipnya, tidak akan mudah terpengaruh atau terombang-ambing oleh jaman, karena ia punya pegangan. Ia memegang prinsip keadilan dalam islam, tidak boleh memakan riba atau mengambil hak orang lain, maka ketika lingkungannya terbiasa melakukan markup keuangan ia akan tegas menolak karena bertentangan. Ia tahu bunga bank haram maka ia akan berhati-hati menyimpang uangnya. Ia tahu prinsip aurat dalam islam, maka ia akan hati-hati menjaga pakaiannya.
Konsep Kesadaran :
Apabila seseorang telah memahami konsep berfikir, maka yang selanjutnya harus dijaga adalah kesadaran. Dzikir, berarti sadar atau ingat. Ingat kepada Allah dengan sadar serta mengucapkan kata-kata yang menuju kepadaNya. Dalam arti lebih luas, dzikir adalah sebuah kesadaran akan peran seseorang di muka bumi. Dzikirnya tidak hanya hablumminallah tapi juga hablumminannas.
1. Sadar diri
Pertama kali seorang muslim harus sadar atau mengenal dirinya. Dengan ini akan membuatnya selalu bersyukur. Bahwa di antara kita masih ada yang lebih sengsara. Tidak semua orang mendapatkan nikmat kehidupan seindah kita. Apa yang kita dapatkan adalah anugerah yang tiada taranya.
2. Sadar fasilitas
Lingkungan pada hakikatnya adalah fasilitas yang diberikan oleh Allah kepada kita. Pengenalan lingkungan adalah dengan cara belajar, mempelajari elemen-elemennya, sifat-sifat manusianya, karakter atau perilaku orang-orang di sekitar kita.
3. Sadar peran diri
Kenali peran diri kita. Apa yang bisa kita berikan buat saudara atau kawan atau orang lain di sekitar kita, maka berikan yang sebaik-baiknya. Keahlian, kemampuan, dan potensi diri sedapat mungkin membawa manfaat bagi lingkungan.
4. Sadar peran orang lain
Setelah menyadari peran diri, kita perlu menyadari peran orang lain, saling berinteraksi sehingga saling mengisi kekurangan yang ada. Masing-masing orang harus memahami, menyadari dan memainkan perannya masing-masing. Allah ciptakan manusia sesuai dengan potensinya. Pasti ada bakat khusus yang dimiliki setiap orang dalam menjalankan perannya.
5. Silaturrahim
Silaturrahim bukan hanya saling mengisi dan memahami, namun lebih dalam menjalin kerjasama yang erat. Kerja sama inilah yang akan menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan memahami semua ini, maka bagi seorang muslim ia akan termotivasi untuk menjalani hidup, menggali potensinya sebesar-besarnya, menjalin kerjasama untuk meningkatkan kehidupan umat. Bagi seorang muslim, ia akan bergairah, hidup bukanlah dunia yang keras dan cadas namun penuh dengan keindahan.
Life is a challenge, meet it
Life is a song, sing it
Life is a dream, realize it
Life is a game, play it
Life is live, enjoy it
From : Daun Berserakan, Palgunadi T. Setyawan