jump to navigation

Antara Jogja dan Jakarta, cita-cita atau cinta? June 30, 2008

Posted by dua rahasia in Catatan hati.
trackback

 Dua tahun yang lalu, aku pergi dari jogjaku tercinta, kota yang kukira tak kan pernah kutinggalkan, kota tempat tergantung cita-cita yang ingin kucapai, kota tempat cinta ingin kusandarkan.  Tapi ternyata aku pergi juga dari sana ke sebuah kota yang aku sama sekali tak ingin menjamahnya, Jakarta, dan alasannya tak lain adalah cinta.

 

Lalu setahun kemudian kutemui pilihan, berjuang di Jakarta atau kembali menggapai cita-cita ke Jogjakarta. Aku memilih tetap tinggal, karena sebuah keyakinan dalam hati. Jalanku akan kumulai dari sini, aku  tinggal demi cinta (lagi) dan cita-citaku telah menemukan tempat startnya lagi. Jadi kenapa harus pergi?

 

Waktu akhirnya kujalani, rutinitas kantor kost yang melelahkan.  Tak bergairah sama sekali, rasanya hilang semangat yang dulu selalu ada padaku. Berpikir apakah salah keputusan yang telah diambil. Ah, aku kan telah memohon yang terbaik kepadaNya, sebuah jalan yang akan mengantarkanku semakin mendekatiNya. Ku menengok diri sendiri dan akhirnya menyadari, memang jalan inilah yang terbaik yang telah ditunjukkanNya kepadaku. Melihat perkembanganku, agama, psikologi, ekonomi, tak ada yang perlu kusesali. Walau kadang terasa ada sesuatu yang hilang, entah apa.

 

Dan dalam perjalanan ini , setelah hampir dua tahun, aku menemukan sebentuk cinta. Cinta yang berbeda.  Menambah keyakinanku bahwa benarlah ini jalan yang terbaik. Tak terkira rasa syukurku kepadaNya.

 

Namun, sekali lagi, pilihan pulang ke Jogjakarta kembali datang. Kali ini lebih menggiurkan. Cita-cita yang begitu kuinginkan, sepertinya sebentar lagi akan tercapai. Aku hanya perlu memilih. Tapi lagi-lagi tak mudah membuat keputusan, ada cinta disini yang ingin kusandarkan , ada janji yang harus kupenuhi.  Aku tak ingin tinggalkan cinta ini.

 

Sayang sepertinya takdir lagi-lagi senang mempermainkanku. Cinta itu tiba-tiba pergi. Serasa hilang kekuatanku untuk berdiri. Lelah diri ini. Inginkupun ku tak tahu lagi. Dalam hati bertanya apakah salah keputusan ini. Tapi aku tidak menyesal dengan semuanya. Ku percaya inilah yang terbaik.

 

Tak tahu lagi apa yang akan terjadi di depan. Aku masih mencoba kembali tegak. Demi cinta yang masih tersisa, demi cita-cita yang lebih mulia.

(untuk sahabat-sahabatku, kalianlah penonton setia episodeku, yang paling tahu tentang cinta ini, nanti akan kukabari akhir kisah ini)

Comments»

No comments yet — be the first.