Kereta api memang menarik hati. Di dalamnya ada begitu banyak pelajaran tentang hidup. Dari pengamen-pengamennya yang buta, yang membawa kotak suara menyanyikan lagu seadanya, berjalan pelan-pelan di tengah gerbong, atau ibu-ibu yang menggendong anaknya, bernyanyi sesedih-sedihnya, berharap ada yang berbelas kasihan memberikan sekedar recehan untuk makan. Atau dari pengamen dengan alat segala rupa, berharap dapat menyaingi orkestra di gedung opera. Dengan gitar, celo, accordion dan biola, menggoda penumpang muda dengan lagu-lagu cinta. Itu baru pengamen.
Ada pula anak-anak menyapu lantai kereta dengan sapu kecil atau langsung dengan tangannya. Mengiba pada penumpang, terkadang menyentuhkan tangannya ke kaki kita. Menatap dengan sendu matanya, tak tahan untuk tak mengisi tangannya yang menengadah. Atau para penjual korannya, seribu saja. ada yang muda dan juga tua. Membawa tumpukan korannya yang mungkin tak habis sore itu. Belum lagi penjual makanan dan minumannya, silih berganti segala rupa. Tentu saja bukan makanan menggoda, namun murah untuk sekedar mengganjal lapar para kuli jalanan. dan terkadang ku sebel juga dengan penjaja pernak-pernik (atau apa sebutannya). Menggantungkan dagangannya tepat di depan kita, para wanita. Memangnya semua doyan belanja dan mudah tergoda, enak saja. Namun kadang kubeli juga, sekedar peniti atau tissuenya. Mungkin bisa menyambung hidupnya.
Tiket keretaku hanya 1500 saja, tapi ongkos sosialnya berkali lipatnya, untuk mereka, karena memang jatahnya. Ah, kereta apiku, tarifmu jangan ikut-ikutan naik ya, kasihan mereka.